Friday, January 24, 2020

Minyak Atsiri Jahe, Penyulingan Menggunakan Sistem Uap Tidak Langsung


Minyak Atsiri Jahe, Penyulingan Menggunakan Sistem Uap Tidak Langsung

Indonesia merupakan salah satu negara penghasil minyak atsiri yang mengekspor produknya ke pasar internasional.  Berdasarkan data statistik BPS, ekspor-impor dunia untuk  nilai ekspor minyak atsiri tahun 2015 senilai 637,4 juta US$ dan 694,7 juta US$ tahun 2016 . 
Beberapa jenis minyak atsiri Indonesia yang menjadi komoditas ekspor yaitu nilam, sereh wangi, cengkeh, jahe, pala, lada, kayu manis, cendana, melati, akar wangi, kenanga, kayu putih, dan kemukus. Jumlah presentase sebagian besar minyak atsiri Indonesia dari ekspor dunia  yaitu nilam 64%, kenanga 67%, akar wangi 26%, serai wangi 12%, pala 72%, cengkih 63%, jahe 0,4%, dan lada 0,9%.

Komoditas jahe di Indonesia mempunyai jumlah produksi mencapai 340.345.036 kg pada tahun 2016 dan Provinsi Lampung pada tahun 2017 menghasilkan jahe sebanyak 1.503.745 kg dihasilkan dari areal  125.528.575 m2 dan nilai produktivitas 1,29 kg/m2.
Jahe biasanya digunakan dalam bumbu masak sehari-hari. Selain itu, jahe memiliki banyak manfaat bagi industri-industri di beberapa bidang seperti bidang pangan, obat-obatan dan minyak atsiri. Industri pangan memanfaatkan jahe sebagai rempah-rempah, minuman dan penyedap makanan. Industri obat-obatan menggunakan jahe sebagai obat tradisional seperti obat sakit kepala, mulas,perut kembung, sakit tenggorakan, dan obat batuk.
Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel sebelumnya yang memaparkan tentang penyulingan miyak atsiri jahe menggunakan bahan baku sisa sortasi.  Pada saat itu, minyak atsiri jahe dihasilkan melalui proses penyulingan menggunakan proses penyulingan uap langsung.
Unit penyulingan minyak atsiri jahe yang digunakan merupakan hasil kemitraan Tim Pengabdian pada Masyarakat Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung dan CV Nusantara Spices melalui skim hibah pengabdian Iptek bagi Produk Unggulan Daerah (iBPUD) DRPM Dikti Tahun Anggaran 2017.
Pada Tahun 2018 ini melalui skim yang sama untuk tahun kedua, proses penyulingan minyak atsiri jahe diupayakan perbaikan melalui sistem uap tidak langsung seperti Gambar di bawah ini.
(dok. pribadi)
(dok. pribadi)
Pada saat ini, produksi minyak atsiri jahe yang telah dilakukan telah menunjukkan adanya kecenderungan lebih baik dibandingkan sistem uap langsung yang digunakan pada tahun 2017 yaitu dari nilai rendemen minyak atsiri sekitar 2,4 persen.  Minyak atsiri yang dihasilkan selama 2018 masih terus dipantau dan dalam proses pengujian mutunya di Balitro Bogor.
Semoga menginspirasi...

sumber

No comments:

Post a Comment