Agro kopyor




Agrowisata
klapa Kopyor Kultur Jaringan


Daftar isi:
I.Kata pengantar..……………………………………………………………….hal 1

II.Visi,misi,metode,target……………………………………………………….hal 2

III.Selayang pandang K.kopyor dan cerita rakyat yang mistis…….hal 3

IV.Budi daya klapa kopyor secara singkat………………………………hal 4

V.Kultur Embrio Rescue untuk perbanyakan bibit klapa kopyor…..hal 7

VI.Potensi Agrowisata klapa kopyor genjah…………………………….hal 9

VI.Bisnis klapa kopyor yang sangat menggiurkan…………………….hal 11

VI.Susuanan pengurus…………………………………………………………..hal 13

VII.Penutup……….…………………………………………………………………hal 14

Lampiran 1  Budged perkebuna k kopyor untuk 4 ha
Lampiran 2.Time schedule untuk pengembangan 4 ha
Lampiran 3.  Galery
Lampiran 4.
Petunjuk Teknis,Penanaman Dan Perawatan Klapa Kopyor
                           Kultur Jaringan  oleh Dr.Imron Riyadi Msi (6 hal )



                                                                     
KATA PENGANTAR


Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas karunia dan nikmat-Nya kami dapat menyelesaikan proposal tentang “Agrowisata Pantai Berbasis Kelapa Kopyor Unggul Murni Asal Kultur Jaringan

Merupakan suatu kebahagiaan bagi kami karena pada akhirnya kami dapat menyajikan informasi dan data mengenai  “Agrowisata kelapa kopyor “ ini. Karakteristik demografis, geografis, perilaku dan persepsi wisatawan mancanegara terhadap daya tarik wisata di Indonesia dan khususnya pantai selatan pulau Jawa memang di perlukan banyak perhatian sebab berpotensi sangant besar untuk meraih jumlah kunjungan wisata manca negara maupun domestik.

Kami harapkan usulan pengembangan “Agrowisata Pantai ” yang ber basis pada perkebunan kelapa kopyor ini bisa di tindak lanjuti sehingga membawa banyak manfaat dari segi per ekonomian pedesaan maupun perlestarian plasma nufsah Indonesia maupun technologi yang terkait.

Diharapkan dengan informasi yang disajikan pada proposal ini dapat dipergunakan oleh semua pihak sebagai bahan masukan dalam pembuatan kebijakan terkait dengan kepariwisataan pesisir selatan pulau jawa dan pendapatan per kapita pedesaan.

Terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu kelancaran pelaksanaan survei dan penulisan proposal “Agrowisata Pantai Berbasis Kelapa Kopyor Unggul Murni Asal Kultur Jaringan“ ini.

Semoga bermanfaat bagi pengembangan kepariwisataan pesisir selatan pulau jawa.



Bogor,1 Agustus 2018.
Susanto
Sastronegoro SE.
WA 087872252754.








AGRO WISATA KELAPA KOPYOR KULTUR JARINGAN
Visi:
Mengembangkan Agrowisata  dengan aplikasi budi daya kelapa kopyor unggul asal teknologi kultur jaringan.

Misi :
1.       Mengembangkan sumber daya manusia terutama di bidang pertanian kelapa kopyor.
2.       Mengembangkan wisata agro  berbasis perkebunan kelapa kopyor asal kutur jaringan.
3.       Meningkatkan pendapatan  masyarakat desa, tahap awal di desa Cikangkung sebanyak 1.000 kk.
4.       Selanjutnya dikembangkan ke desa-desa lain setelah program ini berhasil.
5.       Meningkatkan sumber daya manusia (SDM) desa.
6.       Melestarikan kekayaan Plasma Nutfah asli Indonesia dan kemajuan teknologinya.

Metode:
1.       Bentuk “Inti Plasma “ sebagai penggerak program.
2.       Kemitraan bagi hasil dengan “Plasma” yang adalah Kepala Keluarga (KK) desa.
3.       Mempergunakan Dana Bergulir atau Revolving fund.
4.       Mengembangkan perkebunan inti rakyat.

Target yang akan di capai :
1.       Membentuk “Inti Plasma “Kelapa kopyor sebagai penggerak per ekonomian desa dengan memanfaatkan lahan tidur seluas 5ha atau 50.000 m2 secara bertahap akan dicapai pada proyek pertama di tahun ke 4 dengan jumlah tanaman kelapa kopyor 204 phn dan selanjutnya  4 ha berikut nya akan selesai di tahun ke 8 dengan jumlah tanaman 1.020 phn kelapa kopyor.
2.       Melaksanakan kemitraan sistim bagi hasil dengan kepala keluarga (KK ) yang disebut “plasma” sebanyak 1.000 kk  dengan sistim bagi hasil;1/3 bagian Plasma dan 2/3 bagian “Inti plasma “ yang dimulai di tahun ke 5 akan selesai di tahun ke 12 dengan jumlah tanaman kelapa kopyor 41.011 phn atau rata2 KK (plasma ) memiliki 41 phn atau sama dengan pendapatan Rp.7.400.000,-/bln/kk.
3.       Kebutuhan dana bergulir atau revolving fund untuk proyek tsb adalah Rp.890.260.000,-







III. Selayang pandang kelapa kopyor dan cerita rakyat yang mistis.
Kopyor (yang oleh sebagian masyarakat di Jawa Tengah disebut garoh) adalah kelainan genetik pada buah kelapa. Ciri kelainan ini adalah "daging buah" yang empuk dan terlepas dari tempurungnya, jumlah air kelapa sedikit, dan aroma yang khas yang berbeda dari daging kelapa biasa. Sifat ini merupakan hasil mutasi spontan di bagian mayang yang bersifat setempat (biasa dikenal dalam botani sebagai chimera). Perubahan sifat ini dapat terjadi pada saat setelah pembuahan atau bahkan sebelumnya. Buah kelapa kopyor dapat dikenali dengan menggoyang-goyangkan buah ke kiri dan ke kanan, dan akan terdengar bunyi seolah buah kelapa tersebut bukan terisi air tetapi terisi pasir.Buah kopyor sangat disukai karena rasanya yang menyegarkan bila disajikan sebagai minuman. Kegunaan lainnya ada sebagai bahan kue, baik kue kering maupun kue basah. Nilai ekonomisnya juga sangat tinggi. Jika dibandingkan dengan kelapa biasa, harga kelapa kopyor dapat mencapai empat sampai 10 kalinya. Dengan teknik kultur jaringan orang dapat merakit tanaman kelapa yang mampu menghasilkan >99% buah kelapa kopyor.
Cerita rakyat yang berbau mistis.
Di beberapa daerah di Jawa, masyarakat tidak memakan daging buah kelapa kopyor karena buah tersebut dianggap sisa makanan bulan. Menurut kepercayaan masyarakat tradisional, ketika terjadi gerhana bulan, bulan turun ke bumi dan makan buah kelapa. Sisa buah kelapa yang telah dimakan bulan itu menjadi kelapa kopyor. Untuk mencegah agar bulan tidak makan lebih banyak korban, orang memukul kentongan, beduk dan benda-benda lainnya dengan tujuan menakut-nakuti bulan agar segera meninggalkan bumi.
Kelapa kopyor merupakan komoditas andalan yang bernilai ekonomi tinggi dan di cirikan oleh daging buah yang bertekstur gembur dan sebagian besar tidak melekat di tempurungnya serta rasa yang gurih pada buah yang mudah. Di Filipina, ada mirip buah kelapa kopyor yang disebut makapuno, di Srilangka dan Thailand disebut dikiri. Namun buah tersebut berbeda dengan kepa kopyor baik rasa tekstur dan aromanya. Buah kopyor ini di duga berasal dari tanaman kelapa yang mengalami mutasi genetik secara alamiah. Kelapa berbuah kopyor adalah mutan kelapa yang ditemukan di antara populasi kelapa normal. Buah kelapa kopyor dapat dipasarkan dalam bentuk segar dan siap saji maupaun melalui pengolahan lebih dahulu.
Di Indonesia, pemanfaatan kelapa kopyor lebih ditujukan untuk kebutuhan konsumsi bahan pangan berupa es kopyor, es krim kopyor, koktil, selei kopyor dan bahan campuran kue. Di Filipina, jenis produk yang dapat dihasilkan dari kelapa makapuno lebih beragam dan berkembang, antara lain makapuno coconut candy, pure makapuno preserve (buah kaleng), bokupai (kue kelapa) dan manisan. Produk produk ini telah di pasarkan secara luas di Filipina. Hasil survei yang di laksanakan Balitka pada tahun 2006 menunjukan bahwa kelapa kopyor terdiri atas dua tipe, yaitu tipe Dalam dan tipe Genjah. Tipe Dalam terdapat di Kalianda (Lampung Selatan), Ciomas (Bogor), Sumenep dan Jombang (Jawa Timur) dan Pati (Jawa Tengah).
Di Kabupaten Pati Kelapa Kopyor Tipe Genjah tersebar di beberapa kecamatan, yaitu Tayu, Dukuhseti, Margoyoso, Wedarijaksa, Gembong dan Trangkil. Pertanaman kelapa kopyor ini dijumpai dalam bentuk tanaman tunggal dan populasi.Berdasarkan riset Pusat Penelitian Kelapa Sawit Medan menilai kelapa kopyor (Cocos mucifera L. cv. Kopyor) di Pati, Jawa Tengah, terbaik di Indonesia. Kelapa kopyor akan menghasilkan buah kopyor dengan kemurnian tinggi atau true to type (3T) bila dikembangkan
dengan teknologi jaringan dengan teknik kultur embrio.


IV. BUDIDAYA KELAPA KOPYOR SECARA SINGKAT
Secara alami, tanaman kelapa kopyor konvensional (bukan hasil kultur jaringan) yang tipe Dalam  hanya menghasilkan buah kopyor sebesar 20 – 25% atau 1-2 butir per tandan. Hal ini disebabkan kelapa tipe Dalam termasuk tanaman menyerbuk silang (allogamy) sehingga peluang bertemunya gen resisif pada bunga betina dan serbuk sari relatif kecil. Kelapa kopyor tipe Genjah konvensional (bukan hasil kultur jaringan) berpeluang menghasilkan buah kopyor per tanda lebih banyak dari pada tipe Dalam, yang kadang-kadang dapat mencapai 50%. Hal ini disebabkan kelapa tipe Genjah termasuk tanaman menyerbuk sendiri (autogamy) sehingga peluang bertemunya gen resisif pada bunga betina dan serbuk sari lebih besar. Namun secara pasti, akan menghasilkan sekitar 25% sesuai Hukum Genetika Mendel.
Buah kelapa kopyor tipe Dalam terdiri atas 3 warna, yaitu hijau, hijau-kekuningan dan merah-jingga atau coklat, sedangkan kelapa kopyor tipe Genjah terdiri atas 5 warna, yaitu; hijau, hijau-kekuningan, coklat tua, merah-jingga (coklat muda), dan kuning  gading (gading wulan). Berdasarkan tipe buah, kelapa kopyor dengan daging buah yang tebal dan buahnya berwarna hijau dan coklat memiliki rasa yang lebih enak dan gurih.
Perbanyakan kelapa kopyor dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara konvensional dan teknologi kultur jaringan. Pertama, cara konvensional, menggunakan benih yang berasal dari tandan yang menghasilkan buah kopyor yang buahnya secara fenotipik normal. Artinya, embrio pada buah ini bersifat heterozygot sehingga akan berpeluang menghasilkan buah kopyor sekitar 20 – 25%. Namun metode ini masih memungkinkan menghasilkan buah yang normal 100% atau tidak ada buah kopyor sama sekali. Hal ini artinya embrio dalam kelapa tersebut adalah homozygot dominan sehingga tidak mempunyai gen kopyor.  Tanaman yang di perbanyak dengan cara ini apabila telah berproduksi hanya menghasilkan 1-2 butir/tandan. Cara ini telah dilakukan oleh petani di kabupaten Pati.
Metode perbanyakan atau produksi bibit kelapa kopyor yang kedua adalah dengan teknologi kultur jaringan atau in vitro dengan teknik kultur embrio (embryo rescue), yaitu menumbuhkan embrio dari buah kopyor pada media buatan dalam kondisi aseptik di laboratorium. Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia (PPBBI) telah sejak lama mengembangkan teknologi perakitan kelapa kopyor kultur jaringan. Peneliti pertama yang mengembangkan adalah Dr. J.S Tahardi. Penelitian tetap dilanjutkan dan disempurnakan di PPBBI. Sejak tahun 2005, teknologi produksi kelapa kopyor kultur jaringan disempurnakan oleh Dr. Imron Riyadi, MSi baik pada teknologi pada tahap in vitro maupun ex vitro serta teknologi budidaya.  Teknologi budidaya kelapa kopyor kultur jaringan yang dikembangkan oleh Dr. Imron Riyadi mencakup mulai persiapan tanaman, perawatan, pemupukan, pengendalian hama penyakit serta pemanenan yang akurat. Teknologi budidaya tersebut telah dibuat dan disusun dalam buku berjudul “PETUNJUK TEKNIS, Penanaman dan Perawatan Kelapa Kopyor Asal Kultur Jaringan.”
Tanaman yang dihasilkan dengan cara atau teknologi ini mempunyai genetik murni (3T) karena secara genotipe sudah homozygot resesif sehingga tanaman ini dapat berbuah kopyor > 99%. Populasi tanaman kelapa kopyor yang diperbanyak dengan cara ini telah di tanam di Ciomas, Bogor (Kebun Uji-lapang milik PPBBI), Purwakarta, Lampung, Riau, Kalimantan Timur dan beberapa daerah lain.

Kelapa kopyor tipe dalam mempunyai karakter penyerbukan  silang (allogamy). Oleh karena, untuk menjaga tingkat persentase buah kelapa kopyor tetap tinggi (>99%), maka diupayakan pengaturan jarak tanam dengan kelapa biasa harus minimal 500 m. Hal ini ditujukan untuk menjaga agar serbuka sari kelapa biasa tidak bisa menyerbuki putik kelapa kopyor tersebut. Namun hal ini tidak berlaku untuk kelapa kopyor tipe genjah. Karakter penyerbukan kelapa kopyor tipe genjah adalan menyerbuk sendiri (autogamy) sehingga aman terhadap penyerbukan silang dari serbuk sari kelapa lainnya meskipun jarak tanam berdekatan. Dengan demikian, tingkat persentase buah kopyor tipe genjah lebih kuat dan tinggi (100%) dibandingkan dengan tipe dalam.
Seperti halnya dengan jenis tanaman kelapa lainnya, tanaman kelapa kopyor dapat di serang hama dan penyakit. Jenis hama utama yang dapat menyerang tanaman kelapa kopyor, antara lain Plesispa rechei Chapuis, Brontispa longissima Gestro, Oryctes rhinoceros L. dan Artona catoxantha. Oleh karena itu, sangat penting adanya pengontrolan terhadap gejala serangan hama sejak dini agar segera dapat dikendalikan. Sedangkan penyakit yang dapat menyerang tanaman kelapa kopyor, antara lain; bercak daun, busuk kering, busuk janur, pendarahan batang, busuk pucuk, gugur buah dan penyakit yang di sebabkan oleh Phytoplasma. Pengendalian hama dan penyakit yang diutamakan adalah dengan cara pegendalian sistem terpadu dengan konsepsi analisis ekonomi.
Perhitungan kelayakan invenstasi kelapa kopyor berdasarkan atas pedoman teknik budidaya kelapa secara umum, yang meliputi; pembibitan, pengolahan tanah, penanaman, pemeliharaan, panen dan pasca panen. Secara umum, usaha tani kelapa kopyor cukup menjanjikan tetapi investasi yang di lakukan harus memenuhi beberapa kriteria kelayakan investasi.


SEKILAS TENTANG KELAPA KOPYOR DI KABUPATEN PATI
Berdasarkan riset Pusat Penelitian Kelapa Sawit Medan, kelapa kopyor (Cocos mucifera L cv. Kopyor) tipe genjah di Pati, Jawa Tengah, merupakan kelapa kopyor tipe genjah terbaik di Indonesia. Untuk pengembangan bibit unggul secara massal dan murni (3T), maka seharunsya kelapa kopyor di kota bumi mina tani itu dikembangkan dengan teknik kultur embrio.
Direktur Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan Dr. Witjaksana Darmosaskoro menyatakan hal itu seusai menandatangani kerja sama pembudidayaan kelapa kopyor bersama kelompok tani “Sarwono Makmur”, Desa Sambiroto, Kecamatan Tayu, serta Dinas Kehutanan dan Perkebunan Pati, pada hari Selasa tanggal 22 Mei 2012, di Ruang Pragolo Setda Kabupaten Pati.
Menindaklanjuti hal itu, PPKS membeli 1.200 kelapa kopyor grade C (berdiameter 15 sentimeter) dari petani. PPKS akan mengambil embrio kelapa kopyor itu untuk dibudidayakan dengan teknik kultur embrio.
Kelompok tani di Pati mengembangkan kelapa kopyor sejak 50 tahun lalu. Jenis kelapa kopyor yang dikembangkan adalah kelapa genjah hijau kopyor, genjah coklat kopyor, genjah kuning kopyor, dan oranye kopyor. Populasi induk pohon kelapa kopyor tersebut sebanyak 1.951 pohon yang tersebar di sejumlah desa di Kecamatan Tayu, Dukuhseti, dan Margoyoso. Kelapa kopyor tersebut banyak ditanam di tepi jalan, pekarangan, tepi sungai, dan kebun.
Hingga kini menurut Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan, luas tanam kelapa kopyor di Kabupaten Pati mencapai 378,09 ha. Tiga kecamatan yang memiliki areal per tanaman terluas yaitu Dukuhseti, Tayu, dan Margoyoso, dengan luas berturut-turut 132,60 ha, 131,55 ha, dan 69,50 ha.
Populasi kelapa genjah kopyor Pati, memiliki enam variasi warna buah, yaitu hijau, hijau-kecoklatan, coklat, coklat-kehijauan, kuning-kehijauan, dan oranye (gading), namun yang paling dominan adalah yang berwarna hijau, kuning, dan coklat. Ketiga varietas kelapa genjah kopyor tersebut menurut Pudjo telah dilepas Menteri Pertanian pada 29 Desember 2010 sebagai varietas unggul dengan nama Kelapa Genjah Coklat Kopyor, Kelapa Genjah Hijau Kopyor, dan Kelapa Genjah Kuning Kopyor. Hal ini dibuktikan dengan Surat Keputusan (SK) No. 3995/KPTR/SR/120/12/2010 yang siap dilepas untuk kelapa genjah varietas genjah cokelat kopyor. Selanjutnya, varietas genjah hijau kopyor dengan sertifikat No. 3936/KPTR/SR/120/12/2010, dan genjah kuning kopyor sertifikat No. 3997/KPTR/SR/120/12/2010. Dengan adanya SK Menteri Pertanian itu, otomatis Kabupaten Pati sudah memiliki kekuatan hukum yang pasti sehingga diperlukan pengawasan yang benar-benar intensif agar hak kekayaan lokal yang sudah mendapat pengakuan secara nasional itu tidak dinikmati pihak lain yang tidak bertanggung jawab.







V. KULTUR EMBRIO (EMBRYO RESCUE) UNTUK PERBANYAKAN TANAMAN KELAPA KOPYOR
Kelapa kopyor (Cocos nucifera cv. Kopyor) merupakan jenis kelapa yang menghasilkan buah abnormal yaitu daging buah (endosperma) lepas dari batoknya dan bertekstur remah. Hal ini terjadi karena tanaman kelapa tersebut tidak memiliki gen α-galaktosidase yang bertanggung jawab terhadap mengerasnya endosperma untuk menempel pada batok kelapa .
Di alam, tanaman kelapa kopyor tersebar dalam populasi yang sangat rendah dan menghasilkan hanya satu atau dua butir buah kopyor per tandan. Kelapa kopyor alami banyak dijumpai di daerah Lampung, Tangerang, Pati, Klaten, dan Sumenep . Karena kelangkaan dan rasa khas buah kelapa kopyor maka harga buah kelapa kopyor lebih dari sepuluh kali lipat harga kelapa biasa. Dengan semakin populernya buah kelapa kopyor di masyarakat, maka semakin beragam aneka makanan atau minuman yang menggunakan bahan baku daging buah kelapa kopyor. Daging buah kelapa kopyor bertekstur remah, lepas-lepas yang mempunyai rasa manis, lezat, dan khas berbeda dibandingkan dengan daging buah kelapa biasa. Daging buah kelapa kopyor biasanya dibuat sebagai bahan minuman, campuran es krim, dan aneka kue.
Buah kelapa kopyor tidak dapat ditanam sehubungan dengan rusaknya endosperma. Embrio tidak bisa berkembang menjadi bibit karena tidak memperoleh suplai makanan dari endosperma yang rusak. Oleh karena itu, perbanyakan kelapa kopyor secara konvensional dilakukan dengan menggunakan buah normal yang dihasilkan dari tanaman kelapa yang telah dikenal menghasilkan buah kopyor yang bersifat heterozygo. Misalnya dari satu tandan diperoleh delapan buah kelapa, dua di antaranya kopyor, sedangkan enam lainnya normal. Enam buah kelapa normal inilah yang disemaikan untuk menghasilkan bibit kelapa kopyor. Namun, mengingat gen kopyor termasuk gen resesif maka hanya sekitar 25% dari bibit tersebut yang mempunyai sifat kopyor (heterozygot). Namun ada kemungkinan besar mendapat bibit yang mempunyai genotipe homozygot dominan sehingga tidak akan pernah berbuah kopyor (normal murni).
Meningkatnya permintaan terhadap daging buah kelapa kopyor di masyarakat luas mendorong usaha peningkatan produksi kelapa kopyor melalui perluasan areal tanaman. Penyediaan bibit kelapa kopyor sulit dipenuhi melalui perbanyakan konvensional karena rendahnya persentase bibit yang bersifat kopyor. Untuk itu, teknologi in vitro menawarkan teknologi guna mengatasi masalah perbanyakan konvensional tersebut. Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia (PPBBI) telah berhasil mengembangkan kultur in vitro kelapa kopyor melalui teknik kultur embrio (embryo rescue). Sejak tahun 2013, produksi bibit kelapa kopyor semakin meningkat dengan kapasitas produksi + 10.000 bibit per tahun.
 Aplikasi teknologi kultur embro, maka tanaman kelapa yang dihasilkan akan menghasilkan buah yang hampir semuanya kopyor. Kultur embrio kelapa kopyor pada prinsipnya adalah menyediakan bahan makanan buatan menggantikan fungsi endosperma dalam mendukung embrio untuk tumbuh dan berkembang menjadi bibit. Embrio zigotik diambil dari buah kelapa kopyor berumur 10,5 – 11 bulan setelah antesis dan dikultur pada media in vitro yang mengandung garam mineral makro dan mikro, vitamin, bahan organik, zat pengatur tumbuh dan gula. Embrio tersebut akan tumbuh membentuk tunas (shoot) berwarna putih kehijauan dan akar berwarna kecoklatan yang dinamakan kecambah. Selanjutnya, kecambah tersebut disubkultur atau dipindah ke tabung kultur yang lebih besar (diameter 4 cm dan tinggi 25 cm) untuk pertumbuhan menjadi planlet. Setelah 6-8 bulan, sebagian besar planlet sudah memiliki 2-4 daun dan perakaran yang baik dengan tinggi lebih dari 20 cm. Pada kondisi ini, planlet siap untuk diaklimatisasi ke lingkungan ex vitro atau lingkungan luar. Lama periode kultur in vitro antara 6-10 bulan. Selanjutnya, planlet yang duah besar, diseleksi dan diaklimatisasi di pesemaian (nursery) untuk dijadikan bibit sampai diap tanam di kebun.
Aklimatisasi adalah tahap peralihan dari kondisi in vitro di lab ke kondisi ex vitro di lingkungan luar yang kondisi lingkungannya (suhu, kelembaban udara, dan intensitas cahaya) sangat jauh berbeda, lebih ekstrem dan fluktuatif karena tidak dikontrol seperti di laboratorium. Planlet ditanam di pot kecil berisi media berupa campuran tanah, pupuk kandang dan pasir, kemudian diletakkan di dalam sungkup plastik transparan tertutup rapat di pesemaian di bawah tajuk pepohonan atau paranet (waring). Setelah tiga bulan, sungkup mulai dibuka secara bertahap. Bibit yang mulai berkembang kemudian dipindah ke polibeg ukuran besar. Polibeg tetap diletakkan di dalam sungkup selama beberapa minggu sebelum dipindah ke pesemaian dengan naungan kemudian ke lingkungan luar di bawah sinar matahari langsung selama 1-2 bulan. Pada tahap ini bibit siap untuk ditanam di lapang. Lama periode aklimatisasi antara 6-8 bulan, sehingga jangka waktu mulai dari kultur embrio sampai bibit siap tanam sekitar 1,5 tahun. Sampai saat ini persentase keberhasilan kultur embrio kelapa kopyor menjadi bibit yang siap tanam sekitar 70 – 90 %. Kelapa kopyor  kultur  Jaringan/Kultur Embrio) yang di kembangkan ada 2 tipe: tipe Genjah dan Dalam.
Perbedaan antara tipe dalam dengan tipe genjah antara lain:
a. Tipe Genjah, mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
ü  Umur berbunga berbuah 3 tahun (berdasar uji-lapang), sehingga BEP lebih cepat.
ü  Pertumbuhan meninggi lambat (slow growth) sehingga terlihat pendek (dwarf) atau cebol. Hal ini lebih efisien dalam biaya perawatan terutama pemanenan.
ü  Kelebihan khusus: bersifat autogamy (menyerbuk sendiri) dan cleistogany (begitu manggar/tandan bunga pecah, kondisi putik sudah terbuahi oleh polen sendiri). Hal ini yang menyebabkan terjaganya sifat kemurnian genetik tidak terpengaruh gen tanaman kelapa lain melalui cross pollination.
ü  Hasil dari pengamatan di lapangan,kopyor genjah di panen per 25 hari sekali sebanyak 15 25  butir. Sehingga  dalam 1 tahun bisa di panen sebanyak 13 kali dengan hasil rata2 150 - 250 butir/tahun.
b. Tipe Dalam, mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
ü  Umur berbunga berbuah 4 – 5  tahun (berdasar uji-lapang di Jawa, Sumatera, Kalimantan)
ü  Pertumbuhan meninggi normal seperti kelapa biasa.
ü  Sifat penyerbukan didominasi allogamy atau cross pollination yaitu menyerbuk silang sehingga lebih baik (produktif) dalam bentuk populasi. Namun kemungjkinan terjadinya cross pollination lebih besar bila dekat dengan kelapa biasa sehingga mengurangi persentase buah kopyor. Tingkat penurunan persentase buah kopyor tergantung sebarapa berat densitas polen yang menyerbuk ke putik induk tanaman kopyor. Namun tidak mungkin di bawah 50%. Oleh karena itu, lebih aman ditanam jauh dari kelapa selain kelapa Kopyor.







VI. POTENSI PENGEMBANGAN PERKEBUNAN KELAPA KOPYOR KULTUR JARINGAN TIPE GENJAH DAN AGROWISATA YANG MENGGIURKAN
Dunia perkebunan sekarang menjadi primadona penanaman saham bisnis bagi banyak kalangan. Bagaimana tidak, dunia perkebunan saat ini lebih menjanjikan hasilnya dibandingkan beberapa bidang usaha lainnya. Dalam dunia perkebunan, yang terlintas pertama di pemikiran kita tentunya adalah perkebunan sawit, karet, gaharu, dan lain-lain. Dan ternyata selain jenis perkebunan tersebut, ada jenis perkebunan lainnya yang hasilnya sangatlah menggiurkan. Bentuk perkebunan tersebut adalah jenis perkebunan kelapa. Perkebunan kelapa di Indonesia memang sudah banyak, baik untuk kopra maupun untuk konsumsi. Tetapi perkebunan kelapa yang kali ini akan diulas disini adalah perkebunan kelapa kopyor genjah. Mari kita pelajari lebih lanjut kenapa perkebunan kelapa kopyor genjah ini hasilnya sangat menggiurkan. Banyak kalangan yang belum mengetahui akan menariknya usaha kelapa kopyor. Karena banyak banyak yang belum tahu tentang manfaat dan tingginya nilai kelapa kopyor, khususnya tipe genjah.  Selanjutnya dibahas mengenai alasan kenapa potensi perkebunan kelapa kopyor genjah sangat menggiurkan. Ada beberapa alasan mendasar yang dapat diterima nalar dan dapat diterjemahkan dalam ilmu ekonomi terkait nilai keuntungannya.
Di bawah ini akan dibahas beberapa alasan usaha perkebunan kelapa kopyor kultur jaringan tipe genjah. Oleh karena itu sangat penting untuk diangkat dan diajukan argumentasi dalam proposal ini:
1.  Buah kelapa kopyor adalah buah dengan nilai ekonomis tinggi.
Tidak heran memang dengan alasan ini, semua orang sudah tahu, apalagi yang sudah pernah mencicipi dan membeli buah kelapa kopyor. Harga buah kelapa kopyor tergolong tinggi untuk ukuran harga buah-buahan. Bagaimana tidak, harga terendah buah kelapa kopyor terhenti di angka Rp20.000,-/butir dan harga tertinggi bisa mencapai Rp40.000,-/butir. Bukankah itu harga yang sangat dahsyat untuk menebus 1 butir kelapa. Padahal seperti yang kita tahu, harga kelapa yang biasa dimanfaatkan sebagai santan hanya sekitar Rp.2.000,- sampai dengan Rp 4.000,- per butir. Hal ini berarti nilainya bisa mencapai 10x lipatnya dibandingkan dengan buah kelap biasa.
Dengan demikian, alasan ini bisa menjadi alasan yang mutlak untuk membangun perkebunan kelapa kopyor genjah. Kelapa kopyor genjah mulai berbuah + umur 3 tahun dengan hasil buah 15 sd 25 butir setiap 25 hari, Jadi kalau diambil rata-rata, produksinya bisa mencapai 20 btr x 13 =260 btr per tahun. Bila harga per buah Rp.25.000, maka potensi pendapatan sebesar Rp.6.500.000,-/tahun  atau Rp.500.000,-/25 hari.
2.  Buah kelapa tidak tergantung musim (setiap saat ada).
Dari dulu sampai sekarang tidak ada yang bilang "sekarang adalah musim buah kelapa", seperti yang sering kita dengar ketika musim buah rambutan datang dan musim buah yang lainnya datang. Karena semua hari dan semua musim adalah musim buah kelapa. Begitu juga status ini dimiliki oleh buah kelapa kopyor genjah. Kalapa kopyor genjah bukanlah buah musiman. Buahnya dapat dipanen setiap waktu sepanjang tahun dengan kisaran waktu yang telah ditentukan dengan jadwal panen. Jadi yang memiliki perkebunan kelapa kopyor genjah akan panen buah kelapa kopyor genjah setiap hari bisa dan tidak over suplay sebab kelapa kopyor bukan buah musiman.
3.  Panen buah kelapa kopyor genjah tidak bersifat masal
Masih mengenai panen buah yang bukan musiman, pasti akan merasa takut harga anjlok karena panennya banyak sepanjang tahun. Hal ini tidak perlu dikhawatirkan karena tidak akan terjadi. Karena sistem panen buah kelapa kopyor tidak bisa masal seperti buah yang lainnya. Panennya bertahap dengan kuantitias buah kelapa kopyor yang diperoleh yang tidak terlalu banyak. Hanya saja kisaran  waktu panen hanya sekitar 3 hari jeda, jadi 1 minggu bisa panen 2 kali dengan kuantitas hasil yang berbeda pula. Jadi pemasaran buahnya akan tetap stabil dan tidak terkoyak dengan harga musiman.
4.  Pohon cepat berbuah dengan produktivitas buah tinggi, dan umur produktif lama (> 25 tahun)
Khusus argumentasi ini menyangkut masalah jangka panjang. Umur kelapa kopyor genjah termasuk dalam kategori tumbuhan berumur lama dengan produktivitas buah yang  tinggi. Umurnya bisa sampai puluhan tahun (> 25 tahun) dengan hasil buah yang melimpah. Selain itu pohon kelapa kopyor genjah berbeda dengan jenis kelapa lainnya seperti kelapa tipe dalam. Pertumbuhan normal kurun waktu 3  tahun sudah bisa berbuah pertama dan buah akan siap panen pada umur 10 - 11 bulan berikutnya.
5.  Konsumsi buah kelapa kopyor semakin meningkat
Dengan semakin populernya buah kelapa kopyor, maka semakin banyak yang tertarik dan menggemari untuk menikmati buah kelapa kopyor. Terutama di perkotaan, banyak orang yang mencari dan mengkonsumsi buah kelapa kopyor. Peningkatan konsumen akan terus bertambah dengan semakin dikenalnya buah ini di masyarakat luas.
Selain dari masyarakat, ada beberapa perusahaan yang membutuhkan buah kelapa kopyor sebagai bahan baku produknya, salah satunya adalah perusahaan Ice Cream Campina yang digunakan untuk membuat es krim kelapa kopyor Campina. Resto2 berkelas biasa mempunyai menu kelapa kopyor dengan harga es kelapa kopyor cukup malah,bisa mencapai Rp.30.000- Rp40.000/gelas. Kelapa kopyor jaga bisa di kembangkan untuk produck2 lain seperti Candy,caramel kopyor,kue2,ice cream dan masih banyak lagi tergantung kreasi dan inovasi kuliner.
6.  Tidak ada perawatan khusus seperti buah istimewa
Argumentasi terkahir ini tentang teknik penanaman dan perawatan yang tidak merepotkan dan cukup sederhana. Panduan dan pedoman perawatan sudah dibuat alam bentuk SOP hasil riset yang dilakukan oleh Dr. Imron Riyadi dari PPBBI Bogor.  Kelapa kopyor genjah dapat tumbuh di segala kondisi tanah, termasuk jenis tanah kapur. Ketinggian permukaan tanah cukup luas yaitu 0 – 700 m DPL. Yang terpenting adalah lokasi tersebut harus cukup sinar matahari, minimal fotoperiodisme 7 – 8 jam/hari. Pemupukan juga mudah, cukup sekali pemupukan dengan pupuk kandang dan sekali pemupukan dengan pupuk kimia seperti NPK setelah sudah tumbuh sekitar 1 tahun. Pohon kelapa lebih tahan terhadap serangan hama, sehingga jarang terjadi masalah hama yang serius. Untuk perawatan budidaya dan pengendalian hama penyakit, dapat dilihat di SOP Petunjuk Teknis penanaman dan erawatan bibit kelapa kopyor kultur jaringan.
Selain alasan-alasan tersebut sebenarnya masih banyak sekali alasan yang mendasari mengapa potensi perkebunan kelapa kopyor begitu menggiurkan. Tidak perlu banyak dan luas dalam memiliki kebun kelapa kopyor, cukup memiliki lahan 1 hektar dengan keberadaan 204 batang pohon dengan jarak tanam 7x7m, bila mengikuti SOP yang benar akan berproduksi bagus yang dapat dijadikan sebagai tabungan hari tua yang menjanjikan.






VII. Bisnis Kelapa Kopyor Sangat Menggiurkan
Saat ini permintaan kelapa untuk minuman air kelapa sangat tinggi, hampir semua restoran dan tempat rekreasi memerlukan, karena itu budidaya kelapa pasti untung. Apalagi kalau yang dibudidayakan adalah kelapa kopyor. Hal tersebut diungkapkan oleh Dr. Agus Susanto, peneliti senior Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) kepada perkebunan news.com, di Purwakarta. Saat ini harga kelapa kopyor sangat tinggi atau berkisar antara Rp 30.000 – 40.000/butir di kebun. Nilai ekonominya jauh lebih tinggi , sehingga bisnis budidaya kelapa kopyor sangat menggiurkan. “Selain itu, kelapa kopyor merupakan varietas asli Indonesia yang berasal dari Pati, Jawa Tengah. Tetapi karena sifatnya yang homozigot resesif maka peluang terjadinya kopyor hanya 25%,” jelas Dr. Agus.
Di daerah Pati sendiri, Dr. Agus mengatakan bahwa dalam satu janjang hanya 1-2 buah saja yang kopyor. Itulah sebabnya meskipun permintaan tinggi tetapi penambahan pasokan tidak naik signifikan. Apalagi areal kebun kelapa milik petani luasannya kecil. PPKS sudah bisa mengatasi masalah ini dengan teknologi kultur embrio hasil transfer teknologi dari PPBBI yang  dimbimbing langsung oleh Dr. Imron Riyadi. Melalui teknologi kultur embrio, telah dihasilkan bibit yang mampu menghasilkan kopyor 100%. Saat ini Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) mengelola kebun kelapa kopyor sekaligus pembibitan metode kultur embrio bekerjasama dengan PTPN VIII seluas 3 ha di Purwakarta, Jawa Barat. Kepala Unit Kebun Kelapa Kopyor tersebut dipimpin oleh Bapak Dedi Waskito. Kepala Kebun Kelapa Kopyor PPKS, menyampaikan bahwa saat ini PPKS mampu menghasilkan bibit kelapa kopyor sebanyak 1.500/bulan. “Saat ini banyak orang yang ingin menanam sehingga harus antri. Setiap ada bibit yang siap tanam sudah langsung diambil konsumen,” kata Dedi. Sedang produksi kelapa kopyor dengan luas kebun sebesar 3 ha, setiap bulan mampu menghasilkan 1.500 – 1.700 butir. Pembeli buah kelapa juga antri  bahkan setiap ada panen 500 butir langsung diangkut. “Tapi harus diakui meskipun permintaan sangat tinggi tetapi dengan luas kebun 3 ha masih rebutan. Bahkan permintaan dari sebuah perusahaan ice cream tidak bisa penuhi,” Melihat situasi pasar dan pasokan,Dr. Agus menyarakan kepada masyarakat untuk menanam kelapa kopyor karena bisa meningkatkan kesejahteraanya. Kuncinya adalah menggunakan bibit yang berasal dari kultur embrio yang unggul.
Adapun masalah hama utama budidaya kelapa adalah kumbang Oryctes. Banyak orang menanam kelapa hancur karena hama ini. “PPKS sudah menyediakan teknologi yang bisa mengatasinya yaitu penggunaan feromon,” kata Dr. Agus. Bertanam kelapa kopyor 1 ha itu sudah mendatangkan pendapatan yang lumayan untuk 1 KK. Pada luas lahan 1 rante (400 m2) bisa menanam 9 batang. Karena harga bibit yang mahal biaya awal investasi tahun pertama sampai Rp 15 juta, dengan komponen terbesar untuk bibit sedang sisanya untuk penanaman, perawatan, pupuk organik dan feromon. Tahun ke empat bila menggunakan kopyor genjah sudah bisa berbuah. Dengan harga kelapa kopyor Rp 25.000/butir maka setiap tahun bisa menghasilkan 20x13x9 = 2.340 btr, maka dalam 3 tahun total pengeluaran Rp 20.000.000 sedang pendapatan Rp 58.500.000, sehinggakeuntungannya bisa mencapai Rp 38.500.000,-. Kemudian untuk tahun ke empat total pendapatan Rp 58.500.000 sedang pengeluaran Rp 2.000.000, maka keuntuntungan bisa mencapai Rp 56.500.000/tahun atau per bulan bisa menghasilkan Rp 4.700.000. Dengan begitu tahun berikutnya sudah bisa daftar haji. Ini dengan luas lahan hanya 20 x 20 m saja . Kalau punya 1 hektar maka keuntungan per bulan mencapai Rp 80100 juta.













SUSUNAN PENGURUS
AGROWISATA KELAPA KOPYOR KULTUR JARINGAN
Contack person Santo wa 087872252754

DEWAN PEMBINA :
Bapak Kelapa desa  atau instansi terkait.
Susanto
Sastronegoro, SE


KETUA PELAKSANA:
Mohamad Sobari
, Spd
Dr.
Imron Riyadi, MSi. (Tenaga Ahli  PPBBI )


SEKRETARIS:
Ulfa


BENDAHARA:
Drs.
Ridwan Suhasan

KETUA HARIAN :
Benny SMhk
Edy Lesmana

PELAKSANA HARIAN :

DISCLAIMER AND/OR LEGAL NOTICES
Segala penjelasan dibuat seakurat mungkin untuk menggambarkan produk ini dan potensi besar yang ada. Contoh tidak dapat dianggap sebagai janji atau garansi untuk mendapatkan keuntungan maksimal tergantung pada pengguna yang menggunakan produk, ide, teknik dan cara yang diterapkan. Hasil berbeda-beda dan tidak ada garansi bahwa akan menerima hasil yang sama seperti kami atau orang lain, bisa menghasilkan keuntungan lebih banyak atau kurang, bahkan tidak sama sekali karena banyak factor lain yang mempengaruhi kesuksesan.



PENUTUP
Besar harapan kami untuk dapat berkerja sama dengan semua pihak pemangku kebijakan dan kami siap membantu sesuai dengan ketrampilan, kemampun dan keahlian kami.
Merupakan suatu kebahagiaan bagi kami karena pada akhirnya kami dapat menyajikan informasi dan data mengenai  “Agrowisata Kelapa Kopyor Kultur Jaringan Pantai Cikangkung“ ini. Karakteristik demografis, geografis, perilaku, metoda dan persepsi wisatawan lokal maupun mancanegara terhadap daya tarik wisata di Indonesia dan khususnya pantai selatan pulau Jawa memang di perlukan banyak perhatian dan sentuhan khusus sebab berpotensi sangant besar untuk meraih jumlah kunjungan wisata manca Negara maupun domestik.
Kami harapkan usulan pengembangan “Agrowisata pantai Cikangkung” yang berbasis pada perkebunan kelapa kopyor kultur jaringan ini bisa di tindak lanjuti sehingga membawa banyak manfaat dari segi perekonomian pedesaan maupun perlestarian plasma nutfah Indonesia maupun teknologi yang terkait serta kepariwisataan Indonesia.
Diharapkan dengan informasi yang disajikan pada proposal ini dapat dipergunakan oleh semua pihak sebagai bahan masukan dalam pembuatan kebijakan terkait dengan kepariwisataan pesisir selatan pulau jawa dan pendapatan per kapita pedesaan.
Terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu kelancaran pelaksanaan survei dan penulisan proposal “Agrowisata pantai berbasis kelapa kopyor“ ini.
Semoga bermanfaat bagi pengembangan kepariwisataan pesisir selatan pulau jawa dan juga perekonomian pedesaan.

Bogor, 1 Agustus 2018
Susanto sastronegoro SE (wa 087872252754)
Lampiran ke 1 Column2 Column3 Column4 Column5
BUDGED PERKEBUNAN   K. KOPYOR KULTUR JARINGAN PPBBI
Target  tanam 4 ha secara bertahap.
I TAHAP  I  KLAPA KOPYOR DENGAN LUAS 10.000 M2 (1 HA ) ISI 204 PHN
Lampiran ke 1
No. Uraian                   Rp.
A Biaya tanam klapa kopyor untuk 1 ha (204 phn )
1 Pembersihan lahan (land clearing)  Rp                    6,000,000.00
2 Lubang tanam (204 lubang)  Rp                    2,040,000.00
3 Pupuk kandang 250 krg  Rp                    2,500,000.00
4 Biaya tanam 204 @5000  Rp                    1,020,000.00
5 Harga bibit 204@1.500.000  Rp               306,000,000.00
6 Biaya kirim 204x5kgx10.000  Rp                  10,200,000.00
Total  Rp               327,760,000.00
B FASILITAS
1 Sumur   1 bh  Rp                    3,000,000.00
2 Bangunan pengendali 100m  Rp                  50,000,000.00
3 Peralatan dan fasilitas  Rp                  10,000,000.00
 Rp                  63,000,000.00
C BIAYA OPERASIONAL DAN PEMELIHARAAN
1 Karyawan bulanan 2 org@3jt  Rp                  72,000,000.00
2 Karyawan harian 3@50.000x30x12  Rp                  54,000,000.00
3 Pupuk dan obat2 an 250@10.000  Rp                    2,500,000.00
4 Obat2 an 40@50.000  Rp                    2,000,000.00
5 Konsumsi dll  Rp                  36,000,000.00
 Rp               166,500,000.00
Total biaya tanam tahap 1  Rp               557,260,000.00
D Biaya operasional tahun ke 2  Rp               166,500,000.00
E Biaya operasional tahun ke 3  Rp               166,500,000.00
GRAN TOTAL TAHAP KE 1 (3 thn )  Rp        890,260,000.00
F Tahun ke 4 ada masa panen perdana
1 Hasil 1 thn 25btrx13x204x25.000  Rp            1,326,000,000.00
2 Biaya panen 53.040 btr @1000  Rp               (53,040,000.00)
3 Biaya operasinal tahunan (ke 4 )  Rp             (166,500,000.00)
Sisa  Rp            1,106,460,000.00
Pemakaian dan proyek 1 (3 th )  Rp             (890,260,000.00)  Tarik Modal 
Bisa kembali modal di tahun ke 4.
Surplus  Rp        216,200,000.00
Note.
Potensi proyek 1 sd peremajaan 25 thn.
20 thn income surplus panen  Rp         22,129,200,000.00
surplus di thn ke 4  Rp               216,200,000.00
Total  Rp   22,345,400,000.00
II TAHAP KEDUA  KOPYOR DENGAN LUAS 30.000 M2 (1 HA ) ISI 204 PHN THN KE 5
A2 Biaya tanam klapa kopyor untuk 1 ha (204 phn )
1 Pembersihan lahan (land clearing)  Rp                    6,000,000.00
2 Lubang tanam (204 lubang)  Rp                    2,040,000.00
3 Pupuk kandang 250 krg  Rp                    2,500,000.00
4 Biaya tanam 204 @5000  Rp                    1,020,000.00
5 Harga bibit 204@1.500.000  Rp               306,000,000.00
6 Biaya kirim 204x5kgx10.000  Rp                  10,200,000.00
Total  Rp               327,760,000.00
   
   
B FASILITAS
   
1 Sumur   1 bh  Rp                    3,000,000.00
2 Bangunan pengendali 100m  Rp                  50,000,000.00
3 Peralatan dan fasilitas  Rp                  10,000,000.00
 Rp                  63,000,000.00
C BIAYA OPERASIONAL DAN PEMELIHARAAN
1 Karyawan bulanan 2 org@3jt  Rp                  72,000,000.00
2 Karyawan harian 3@50.000x30x12  Rp                  54,000,000.00
3 Pupuk dan obat2 an 250@10.000  Rp                    2,500,000.00
4 Obat2 an 40@50.000  Rp                    2,000,000.00
5 Konsumsi dll  Rp                  36,000,000.00
 Rp               166,500,000.00
Total biaya tanam tahap 2 thn ke 5  Rp               557,260,000.00
D Biaya operasional tahun ke 6  Rp               166,500,000.00
E Biaya operasional tahun ke 7  Rp               166,500,000.00
GRAN TOTAL TAHAP KE 2 (3 thn )  Rp        890,260,000.00
Tahap ke 2 (3 thn ) untuk 3 ha (612 phn )  Rp            2,670,780,000.00 Thn ke 7
 890.260.000 x 3
Note
Penghasil kebun tahap 1 tahun ke 5  Rp            1,106,460,000.00
Penghasil kebun tahap 1 tahun ke 6  Rp            1,106,460,000.00
Penghasil kebun tahap 1 tahun ke 7  Rp            1,106,460,000.00
   
Total  Rp            3,319,380,000.00
   
Tahap ke 2 (3 thn ) untuk 3 ha (612 phn )  Rp            2,670,780,000.00 thn ke 7
   
Surplus  Rp               648,600,000.00 thn ke 7
   
   
   
Note .    
Tahun ke 8  pendapatan.
Surplus tahun ke 7  Rp               648,600,000.00
Kebun tahap 1 (204 phn )  Rp            1,106,460,000.00
Kebun tahap 2 (612 phn) panen pertama    
1.106.460.000.000 x 3  Rp            3,319,380,000.00
   
   
Surplus tahun ke 8  Rp     5,074,440,000.00
   
   
   
Total potensi produksi rata2 selama 25 thn untuk 4 ha   adalah :
   
Pendapatan per tahun  Rp            4,425,840,000.00
   
Masa produksi (25-3 =22 thn prod)  Rp   97,368,480,000.00
   
   
   
   
   



Column1 Column2 Column3 Column4 Column5 Column6 Column7 Column8 Column9 Column10 Column11 Column12 Column13 Column14 Column15 Column16 Column17
Time shedule untuk proyek 4 ha k kopyor ppbbi
Thn
Uraian 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
1 Tahap 1 (1 ha ) isi 204 mulai tanam thn 1 1 2 3
2 Tahap  ke  2 (3 ha ) 612 phntanam than ke 5 5 6 7
3 Tahap 1 (1 ha ) isi 204  mulai panen ke 1
4 Tahap 2 (3 ha ) isi 612 mulai panen ke 1
Note
Tahap 1 (1 ha )  mulai panen tahun ke 4
Tahap 2  (3 ha ) mulai panen tahun ke 8






2 comments: