PURWOKERTO – Toples berisi air bening dan akar ginseng itu masih tertutup rapat. Plastik berwarna merah muda yang diikat karet gelang memastikan tak ada udara yang masuk. Saat dibuka, bau keras menyengat hidung. “Setengah gelas saja sudah cukup, tak perlu banyak-banyak,” kata Jasmin, Kepala Desa Wlahar Kecamatan Wangon Banyumas, Senin (1/10).
Ciu, minuman keras tradisional dari Banyumas selama ini dikenal sebagai suguhan bagi tetemu di Desa Wlahar. Bagi warga setempat, minuman itu merupakan jamu untuk penyehat badan. Tak jarang ditemui, penderes kelapa yang sehari-hari harus memanjat pohon kelapa, harus meminum barang segelas sebelum melakukan aktivitasnya.
