Tuesday, January 21, 2020

Membuat Minyak Atsiri dari Tanaman Jahe



Hasil gambar untuk penyulingan minyak jahe
Neraca. Pengolahan dan pemanfaat jahe selain sebagai bumbu dapur atau minuman hangat, pada rimpang jahe juga dapat diambil kandungan minyak atsiri jahe, yakni dengan proses penyulingan. Usaha pengolahan minyak atsiri jahe ini menjadi peluang usaha yang sangat sayang untuk dilewatkan.
Minyak atsiri adalah senyawa mudah menguap yang tidak larut di dalam air yang berasal dari tanaman diantaranya terkandung dalam rimpang jahe. Dalam proses pengolahan jahe agar menghasilkan minyak atsiri, diawali dengan memisahkan rimpang jahe dari jaringan tanaman melalui proses destilasi. Pada proses ini jaringan tanaman dipanasi dengan air atau uap air. Lalu minyak atsiri akan menguap dari jaringan bersama uap air yang terbentuk atau bersama uap air yang dilewatkan pada bahan.
Campuran uap air dan minyak atsiri dikondensasikan pada suatu saluran yang suhunya relatif rendah. Hasil kondensasi berupa campuran air dan minyak atsiri inilah yang sangat mudah dipisahkan karena kedua bahan tidak dapat saling melarutkan.
Dalam metode penyulingan, kandungan minyak atsiri dalam sebuah rimpang jahe, kurang lebih sebesar satu hingga tiga persen. Ada beberapa teknik penyulingan minyak atsiri pada rimpang jahe yang dapat dilakukan, yaitu; metode perebusan. Bahan baku dalam hal ini rimpang jahe direbus di dalam air mendidih. Minyak atsiri akan menguap bersama uap air, kemudian dilewatkan melalui kondensor untuk kondensasi. Alat yang digunakan untuk metode ini disebut alat suling perebus.
Setelah perebusan, dilanjutkan dengan metode pengukusan. Rimpang jahe (bahan baku) dikukus di dalam ketel yang konstruksinya hampir sama dengan dandang. Minyak atsiri akan menguap dan terbawa oleh aliran uap air yang dialirkan ke kondensor untuk kondensasi. Alat yang digunakan untuk metode ini disebut suling pengukus.
Kemudian metode uap langsung, dimana bahan baku (rimpang jahe) dialiri dengan uap yang berasal dari ketel pembangkit uap. Minyak atsiri akan menguap dan terbawa oleh aliran uap air yang dialirkan ke kondensor untuk kondensasi. Alat yang digunakan untuk metode ini disebut alat suling uap langsung.
Pada umumnya yang dilakukan oleh kebanyakan petani, adalah metode pengukusan karena mutu produk cukup baik, proses cukup efisien, dan harga alat tidak terlalu mahal, sedangkan untuk untuk skala besar, metode uap langsung yang paling baik karena paling efisien dibanding cara lainnya.
Bahan yang diperlukan dalam proses produksi minyak atsiri jahe, yakni rimpang jahe, air serta kertas saring berlapis magnesium karbonat.
Sedangkan peralatan yang diperlukan dalam pengolahan rimpang jahe menjadi minyak atsiri jahe, dibutuhkan seperti alat suling pengukus. Alat ini digunakan untuk menyuling minyak atsiri dengan metode pengukusan. Lalu ketel suling, pengembun uap (kondensor) serta penampung hasil pengembunan dan botol kaca berwarna gelap, atau jerigen plastik kualitas tinggi.
Sebelum dilakukan poses pengolahan rimpang jahe, perlu dilakukan beberapa persiapan, yaitu; rimpang jahe dicuci sampai bersih, kemudian dipotong kecil-kecil (dirajang) dengan ketebalan berkisar antara 2 sampai 4 mm. Atau rimpang jahe dapat juga digeprak (dipukul sampai memar dan pecah, tapi tidak sampai hancur). Tahap pembersihan ini jahe yang akan disuling tidak perlu dikuliti karena pengulitan akan menurunkan rendeman minyak atsiri jahe. Ukuran potongan (rimpang) harus diusahakan seseragam mungkin. Ukuran yang tidak seragam akan meyulitkan penyusunan bahan di dalam ketel secara baik.
Setelah bahan baku (jahe) siap, dilakukan persiapan alat, dengan terlebih dahulu membersihkan bagian dalam ketel. Setelah itu, ketel diisi dengan air bersih, dengan permukaan air berada 3-5 cm di bawah plat berpori yang menjadi alas irisan jahe. Air yang paling baik diisikan adalah air hujan, karena air ini tidak akan menimbulkan endapan atau kerak pada dinding dalam ketel.
Saat pengisian bahan ke dalam ketel, rimpang jahe yang sudah dirajang, dimasukan ke dalam ketel. Bahan disusun dengan formasi seragam dan mempunyai cukup rongga untuk penetrasi uap secara merata ke dalam tumpukan bahan. Perlu diperhatikan, tumpukan bahan yang terlalu padat dapat menyebabkan terbentuk rat holes, yaitu suatu jalur uap yang tidak banyak kontak dengan bahan yang disuling. Tentu saja hal ini menyebabkan rendemen dan mutu minyak akan rendah. Lalu tutup ketel dengan rapat sehingga tidak ada celah sekecil apapun yang memungkinkan uap lolos dari celah tersebut.
Proses penyulingan ini dilakukan selama kurang lebih 16-30 jam. Minyak jahe yang baik berwarna kuning kecoklat-coklatan. Dari hasil proses penyulingan tersebut, minyak jahe yang diperoleh masih mengandung sejumlah kecil air. Kandungan air ini dapat dikurangi dengan cara menyaring minyak melalui kertas saring berlapis magnesium karbonat.
Untuk memperoleh minyak atsiri jahe dengan kandungan air yang rendah, minyak atsiri jahe harus disentrifusi dengan kecepatan tinggi atau disaring dengan penyaring mekanis. Minyak atsiri yang diperoleh selanjutnya disimpan dalam botol kaca yang berwarna gelap dan kering. Botol ini harus ditutup rapat. Setelah melalui proses pengemasan dan pelabelan, minyak atsiri jahe siap dipasarkan kepada konsumen.

No comments:

Post a Comment